Aya Sofya Simbol Kemenangan Islam Di Tanah Eropa

Saat ini Hagia Sophia bernama Museum Aya Sofya. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah Masjid Aya Sofya. Dan sebelum menjadi masjid, bangunan ini adalah gereja yang bernama Hagia Sophia. Di museum ini bisa ditemukan dua simbol untuk umat kristiani dan muslim

Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofya

Sejarah Gereja Hagia Sophia (330-1453 M)

Pada masa kekaisaran Byzantium, Hagia Sophia ialah gereja katedral (basilika) Byzantium yang dibangun saat Turki masih bernama Constantinople oleh kaisar Konstantin Agung, Kaisar Kristen pertama yang mendirikan kota constantinople yang pada saat itu disebut juga “Roma Baru”.

Tidak lama kemudian Hagia Sophia yang asli ini runtuh dan kemudian digantikan oleh gereja kedua yang dibangun oleh Kaisar Theodosius II. Gereja ini pun kemudian terbakar pada saat kerusuhan di tahun 532 M.

Pada tahun 532 M, Kaisar Justinian I membangun gereja yang megah (katedral). Arsitek Gereja Hagia Sophia ini dipercayakan kepada Anthemius dari Tralles dan Isidore dari Miletus. Berkat tangan Anthemius dan Isidore, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur Byzantium.

Pada saat menyelesaikan basilika ini, Kaisar Justinian I berkoar ” Wahai Sulaiman, aku telah melampaui engkau”. Hal ini diucapkannya sebagai pertanda bahwa kubah Hagia Sophia dibangun lebih besar dari kubah “Kuil Sulaiman“ yang ada di Jerusalem. Hagia Sophia menjadi katedral termegah umat Kristen Ortodoks Timur sedunia, hingga hampir seribu tahun.

Namun Gereja Hagia Sophia ini seolah bersahabat dengan gempa., selang empat setengah abad, tepatnya pada 25 Oktober 989 M gereja itu kembali runtuh digoyang gempa, Kaisar Basil II melakukan renovasi.

Akhirnya, memasuki abad ke-14, gereja Hagia Sophia itu direnovasi secara besar-besaran agar kokoh guna mengantisipasi kemungkinan sewaktu-waktu diterpa gempa kembali. Kubahnya dibuat besar dan tinggi dengan diameter 30 m dan tinggi 54 m. Bangunan gereja ini pun tampak kokoh, gagah dan berwibawa di tengah Kota Istanbul.

Masjid Aya Sofya (1453 –1935 M)

Pada masa kesultanan Utsmaniyah atau dikenal juga dengan sebutan kekaisaran Turki Ottoman, Constantinople ditaklukkan Sultan Mehmed II yang terkenal dengan nama Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Pada hari Selasa 27 Mei 1453 Sultan Mehmed II memasuki kota itu dan turun dari kudanya kemudian bersujud syukur kepada Allah SWT, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan nama Aya Sofya. Tanggal 1 Juni 1453 Masehi tepat pada hari Jum’at atau tiga hari setelah penaklukan, Aya Sofya langsung digunakan untuk shalat Jumat berjamaah.

Berbagai modifikasi terhadap bangunan segera dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid. Masjid Aya Sofya juga menjadi masjid kebanggaan umat Islam sedunia. Bentuk kubah Aya Sofya menjadi inspirasi dibangunnya masjid Turki seperti Masjid Biru, Masjid Sulaiman, Masjid Sehzade dan Masjid Rustem Pasha. Kubah Aya Sofya yang menjulang ke atas dari masa Byzantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara.

Empat menara ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di bagian selatan. Ketika kekuasaan Turki Kesultanan Utsmaniyah itu dilanjutkan oleh Sultan Selim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara. Pada masa ini, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja.

Termasuk, mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan. Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.

Pada masa ‘modern’ pada tahun 1937, Presiden Pertama sekaligus pendiri Republik Turki Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Masjid Aya Sofya menjadi museum. Mulailah proyek “Pembongkaran Masjid Aya Sofya”. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Sementara peninggalan Masjid Aya Sofya yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap dipertahankan. Terdapat delapan pilar kayu kaligrafi Islam yaitu Allah SWT, Nabi Muhammad saw, empat khalifah pertama Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, dan dua cucu Nabi Muhammad saw, Hasan dan Husain.

Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofya. Masjid Aya Sofya dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Byzantium yang indah mempesona.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s